Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Thursday, June 5, 2014

Milih Yang Mana?

"Nda, kesini deh.. Kamu milih yang mana?"

Lagi asik persiapin dokumen lelang buat klarifikasi besok, tiba-tiba mbak Desy nanya.

"Apa sih, mbak?" Aku penasaran, sambil liat ke monitor komputernya.

Ternyata ini.

Beberapa bulan lalu udah sempet mau ikutan nge-vote Magnum ini juga. Lagi rame di Twitter. Tapi pas udah nyampe di halaman webnya, dan liat gambar es krim Magnum terpampang gede-gede gitu entah kenapa tiba-tiba aku ngerasa eneg, males, gak minat. Akhirnya gak nge-vote, dan aku tutup webnya. Sampe akhirnya sekarang udah selesai votingnya hahaha..

Aku bukan penggemar Magnum, karena bukan penggemar cokelat batangan. Cuma kalo pas lagi ngidam aja sih beli Magnum, ato kalo diskonan dan mama ngeborong, ato kalo lagi ada rasa baru en penasaran pengen nyoba. Tapi kalo nyariin, enggak sih.. Apalagi sejak nyobain Magnum Gold. Ewww.. Eneg, aneh, dan berasa makan poop (warnanya kayak warna poop bayi, menurutku sih). Sorry, no offense buat Magnum, tapi aku aliran visual banget, ngeliat kayak gitu ya.. emm.. anu.. gitu lah..

Yang pasti aku gak bakalan nolak kalo dikasi gratis dari mama, atau Magnum yang lapisan coklatnya ada kacangnya.
Yeah, chocolate + nuts = GREAT COMBINATION!!

Apakah ini artinya aku golput?

Yeah.. Aku golput dalam mem-vote 2 rasa Magnum itu, Pink atau Black. Nggak milih keduanya.

Menjelang Pilpres gini, entah kenapa masih aja ada orang-orang yang nyinyirin golput. Yang bilang mereka gak bertanggung jawab lah, gak peduli sama Indonesia lah, gak boleh protes kalo yang menang bikin rusuh Indonesia lah, dsb dsb bla bla bla..

Wait, wait.

Emang kalo gak golput itu artinya kamu peduli sama Indonesia? Nggak juga kan?
Emang kalo gak golput, artinya kamu udah jadi WNI yang baik? Belum tentu kan?
Emang kalo gak golput, apa hebatnya sih? Tetep aja gak ada yang berubah dari kehidupanmu kan?

Gimana kalo alasan orang-orang yang golput/gak milih itu kayak alasan saya gak milih salah satu dari 2 Magnum itu? Karena eneg liat calon yang itu-itu aja. Eneg denger janji-janji palsu. Eneg sama berita-berita yang gak jelas mana hoax, mana yang beneran. Or.. jangan-jangan mereka golput karena eneg liat orang-orang yang (katanya) gak golput nyinyirin yang golput?

Bisa jadi awalnya mereka udah semangat mau milih. Tapi karena satu dan lain hal, mereka berubah pikiran. Males. Emang salah ya?

Magnum di atas, kamu mau ikutan nge-vote atau enggak, gak ada yang berubah tuh dari kehidupanmu. Aku gak ngevote Magnum apapun, gak kejatuhan Magnum raksasa. Gak ilang ditelan Magnum. Nothing changed! Yang nge-vote Magnum, aku mau nanya, emang ada gitu yang berubah dari kehidupanmu setelah nge-vote Magnum Black ato Pink?
Yang berubah palingan 4 orang beruntung yang dapet voucher dari Magnum. Bener gak? Padahal yang nge-vote jutaan orang. Jutaan lainnya selain 4 orang tadi dapet apaan sih?

Pilpres kali ini juga begitu.
Siapapun presidennya, nothing changed, man! Indonesia ya bakalan tetep kayak Indonesia yang sekarang. Keadaan berubah cuma di beberapa golongan tertentu aja.

Banyak orang memilih gak mau terlibat dalam politik, memilih gak peduli, memilih untuk pesimis. Itu terserah Anda.
Masalahnya, politik itu tidak sesederhana Magnum.
Kamu mau gak peduli, hasil dari kebijakan politik itu tetep kamu yang ngerasain.
Kamu mau peduli, hasil dari kebijakan politik juga belum tentu memuaskan kamu.

Politik itu berkaitan erat dengan kepentingan-kepentingan?
Iya, betul! Betul pake banget!

Malah aku berani bilang, politik itu HARUS KUDU MUSTI ada kepentingannya!

Lha kalo gak ada kepentingan apa-apa, ngapain pake politik?
Nanem sayur, barter sama telur aja kayak jaman batu :D
Justru aneh kalo ada orang yang koar-koar tentang politik, nyebarin positive, negative, atau bahkan black campaign tapi gak punya kepentingan apa-apa. Maju pengen jadi presiden tapi gak punya kepentingan apa-apa. Ngapain, Mas? Mbak? Ngikut aja biar keren gitu? Kita dateng job interview aja pake politik kan? Beberapa malah pencitraan. Biasanya slengek'an, ada job interview di bank langsung sewa jas, rapi, klimis, wangi. Gak ngerti bidang kerjaannya, pokoknya ngelamar dulu, sapa tau lolos ke tahap selanjutnya, dapet posisi dan gaji lumayan buat fresh graduate. Iya kan? Kenapa kalo presiden gak boleh?
Yang jadi masalah kan, kepentingan itu kepentingan orang banyak atau diri sendiri?

Aku sendiri sejak mulai dikit-dikit paham politik, paling gak udah ngerti politik itu ada unsur kepentingan (lumayan lah, Kewarganegaraan jaman SMA gak menguap percuma), secara terbuka aku berani bilang aku juga ada kepentingan kenapa milih salah satu capres/caleg.


Kepentinganku milih nomer 2?
  1. Aku gak mau mengulang Jaman Orba. Aku bukan korban dan gak merasakan langsung dampak Orba, tapi ortuku iya! Keluarga besarku, iya! Dan aku tau (dari cerita-cerita mereka) betapa susahnya jaman Orba dulu, apa-apa dilarang, apa-apa dibatasi, hidup dalam ketakutan, mulut dibungkam, harus tunduk dan dianggap warga kelas 2. Aku gak mau sisa-sisa orang yang pernah dekat dengan jaman Orba jadi pemimpin negeri ini lagi, at least, 5 tahun ke depan aku gak mau jadi warga kelas 2. Gak mau merasakan dilempar batu dan dikatain "Cino! Cino!". Gak mau pas abis nulis blog gini, besoknya ilang :D
  2. Aku mau supaya Ahok jadi gubernur.
That's it.

Apakah kepentinganku egois?
Apakah kepentinganku gak penting?

Terserah Anda.

Yang pasti, buatku itu penting kalo Nomer 2 yang menang.
  1. Hidupku 'aman' 5 tahun ke depan.
  2. Bukti bahwa SARA di Indonesia tidak mempengaruhi apapun selama emang kerjanya bener di pemerintahan.
Memilih atau gak milih, nothing will changed. Kehidupan kamu-kamu gak bakal berubah banyak kok.

Satu-satunya alasan kenapa akhirnya saya memilih, karena saya punya harapan.
Aku masih berharap, dengan ikut memilih, dengan ikut bersuara, ada harapan orang baik yang memimpin negeri.
Aku masih berharap, jika orang baik yang memimpin negeri, teman-teman yang mendukungnya di pemerintahan juga orang-orang baik.
Aku masih berharap, jika orang baik dikelilingi orang baik, orang jahat akan merasa aneh sendiri dan berbalik jadi orang baik.

Mengutip kuote dari Dan Ariely (bagus banget!) yang di-share sama @semeinhart:

“One percent of people will always be honest and never steal," the locksmith said. "Another one percent will always be dishonest and always try to pick your lock and steal your television. And the rest will be honest as long as the conditions are right - but if they are tempted enough, they'll be dishonest too. Locks won't protect you from the thieves, who can get in your house if they really want to. They will only protect you from the mostly honest people who might be tempted to try your door if it had no lock."
― Dan ArielyThe Honest Truth About Dishonesty: How We Lie to Everyone--Especially Ourselves

Semoga harapanku nggak mengecewakan :D
#IStandOnTheRightSide #pemiyuk #Pemilu2014

P.S.:
Buat yang mau ikutan pake avatar kayak di atas, bisa download templatenya di sini (PNG) atau di sini (JPG)

P.S.S:
Biar gak serius-serius amat, silakan dimari nonton video ini. Dukung FUN campaign!

Wednesday, August 28, 2013

Mari #TurunTangan!

Berita-berita soal sosok #OrangBaik lagi berseliweran di timeline dan social media lainnya. Pak Anies Baswedan yang maju konvensi capres. Jokowi-Ahok yang.. gitu deh, liat aja berita-berita di Youtubenya. Pak Ridwan Kamil yang akhirnya jadi Walikota Bandung. Bu Risma yang terkenal blusukannya.

Hal-hal ini bikin saya merinding disko! Wow, ternyata banyak juga ya orang-orang yang masih mau #TurunTangan. Yang gak melihat kepentingan mereka, tapi selalu berpikir gimana caranya supaya apa yang mereka kerjakan ini bisa bermanfaat untuk masyarakat. Mengutip katanya Ko Edward Suhadi, dari dulu kita berdoa supaya Indonesia diberikan pemimpin yang baik, dan sekarang udah beneran dijawab lho bloggers! Beberapa nama di atas cuma sedikit dari orang-orang yang bisa saya sebutkan. Mungkin ada banyak yang lain yang gak ketangkap media. Tapi dengan semua pemberitaan ini, bikin saya tersadar dan malu kalau sampai hari ini saya belum juga bisa berbuat apa-apa :(

Berita-berita ini juga bikin saya sadar, Indonesia bener-bener lagi on the move! Ya, memang korupsi amsih dimana-mana. Sejarah masih diputarbalikkan. Negara masih kacau balau. Berita negatif soal pejabat ini atau pejabat itu masih menyebar luas seperti asap kebakaran, menutupi langit biru. Belum lagi perekonomian yang lagi kacau. Sepertinya selalu ada hal yang memudahkan kita untuk mengeluh dengan keadaan Indonesia sekarang. Walau begitu (tampaknya), we're on the move, guys!

Rasanya setiap orang yang #TurunTangan sedang sibuk membenah ini itu, tanpa peduli ada orang lain yang merusak di lain tempat. Orang-orang yang dulunya cuma duduk-duduk kelelahan, gusar karena melihat banyaknya tangan yang merusak, ketika melihat orang-orang mulai #TurunTangan, kondisi mulai sedikit membaik, tidak sedikit yang akhirnya juga #TurunTangan. Buat saya, ini suatu kondisi yang baik untuk Indonesia! Sebuah negara yang sudah terlalu lama di-nina-bobo-kan, terlalu lama disakiti, terlalu lama dikecewakan memang biasanya agak pesimis dengan gerakan baru ini. Saya sih sadar, tidak mudah move on dari sakit hati. Dan untuk orang-orang ini, saya sudah biasa untuk mencoba mengabaikan mereka. Orang-orang yang terus mengeluh dan minta diperhatikan, padahal orang lain sedang sibuk membangun. Biasa.

Saya jadi inget juga perjuangan waktu awal-awal di komunitas saya, banyaaakk sekali pemimpin (pemimpin lho ya), yang dikecewakan. Akhirnya menimbulkan banyak sakit hati ke orang-orang yang dipimpin. Termasuk saya. Tidak mudah untuk bangkit, saya tahu. Saya sendiri hampir menyerah waktu itu, tapi toh kekuatan doa itu sesuatu yang tidak bisa kita ukur kedalaman kekuatannya. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi ketika kita berdoa. Sama ketika menyiram bibit tanaman, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di dalam tanah, tapi toh kita tetap terus menyirami bibit itu.

Saya kira apa yang terjadi di Indonesia saat ini hampir sama seperti apa yang saya alami saat terjadi pergolakkan di komunitas waktu itu. Ada orang-orang yang skeptis, suka mengkritik, mengeluh, ngomel, minta perhatian, dll. Tapi selalu ada orang yang murni hatinya, terus bertahan walau disalahpahami, terus bekerja sekalipun dianggap tidak bekerja. Biasa. Saya bilang itu hal yang biasa.

Pergolakan ini pun, ada yang pesimis soal Pak Anies, ada yang terus meyerang Pak Ahok dan Pak Jokowi, ada yang berusaha menjegal Bu Risma, ah, itu hal yang biasa. Namun tugas saya sebagai warga negara dan masyarakat yang ingin dilindungi, ingin dijaga, ingin lebih baik, adalah mendukung setiap pemimpin kita.

I did it 4 years ago, and it works! Ketika saya memutuskan untuk berhenti mengeluh, mengkritik, menegur, dan bernegosiasi, berbalik menjadi mencoba memahami dan mendukung, life is gonna be better. Memang masiha da keputusan-keputusan pemimpin yang membuat dahi berkerut, heran, dsb. Tapi ketika kita sebagai yang dipimpin mencoba percaya dan mendukung, oh wow, apa yang saya pelajari hari itu sampai sekarang adalah suatu pelajaran yang tidak bisa saya dapatkan di tempat lain. Siapa bilang saya tidak bisa belajar dan tidak cocok di lingkungan pelajar? Saya JUSTRU belajar sangat banyak dengan anak-anak SMP-SMA. Ketika mereka dicap alay dan gak bisa apa-apa, JUSTRU saya belajar banyak dari mereka. Kepolosan, kemurnian, antusiasme. Hal-hal ini tidak bisa saya pelajari di tempat lain.

Jadi? Kamu masih mau ngeluh? Masih mau ngomel? Masih minta diperhatiin? Please, bangun dan cuci muka dong! Liat sekelilingmu! Semua orang sibuk membangun hari ini! Sampai kapan mau skeptis begitu?

Wednesday, March 20, 2013

#KISFair2013

Masih inget yang ini?

, 25-31 maret di Grand City) mengajak anda untuk melihat potret pendidikan di Surabaya via

Saya copy-paste-kan tweet-tweet luar biasa dari temen-temen yang mendukung Kelas Inspirasi Surabaya ini.

Monday, January 12, 2009

Nasionalisme dipertanyakan (?)

Pagi - pagi baca Deteksi, cukup surprise juga. Menurut polling, film Laskar Pelangi jadi favorit. Prosentasenya beda jauh lagi sama film-film lainnya. Ngeliat latar belakang perfilman Indonesia yang didomonasi film horor dan drama romantis komedi (kenapa ya?) yang gak jelas sama sekali maksud filmnya, film Laskar Pelangi ini seperti air di tengah gurun.

Waktu itu aku sempet mikir juga, oh, ternyata anak-anak muda Indonesia ternyata ya masih waras juga toh. Maksudnya, ya masih ngerti mana film yang ada maknanya, mana yang cuma kesannya, biar ada film gitu aja. Dulu aku sempet ngira anak-anak muda Indonesia ini udah tergila-gila dan terkontaminasi sama cerita-cerita bualan macam sinetron, cerita-cerita hantu mulai dari yang janda sampe yang perawan, cerita-cerita romantis komedi yang ujung-ujungnya berhubungan sama seks. Sempet gerah juga kalo nonton bioskop, yang dipajang filmnya gitu-gitu aja.

Tapi dari hasil polling itu, aku jadi lega. Berarti sebenernya kita-kita ini suka dengan film-film yang punya makna. Nggak harus yang berbau-bau hantu atau horror, gak harus berbau-bau drama komedi yang nyrempet seks, gak harus film yang berbau materialistis.

Kalo aku perhatikan sinetron Korea yang sering digemari, sebenernya setting mereka gak mewah-mewah banget, rumah biasa-biasa, kebanyakan juga malah pake apartemen aja. Tapi kenapa bisa begitu apik? Sedangkan sinteron Indonesia, yan udah mahal-mahal nyewa rumah yang paling megah, yang halaman rumahnya ada air mancurnya, mobilnya kelas BMW ke atas, artis-artisnya ngambil yang bule-bule yang 'dipaksa' ngomong Indonesia, yang baju-bajunya keluaran butik mahal, kesannya justru 'biasa'.

Belum ada sutradara sinetron yang berusaha menonjolkan hal-hal ini. Kesederhanaan, kesetiaan, pelajaran kehidupan. Terlalu menjual mimpi kalau aku bilang. Tapi toh masyarakat juga banyak yang suka nonton, ratingnya gak turun, bahkan kejadian sinetron juga mulai terjadi di kehidupan si penonton. Bagus kalo kejadian yang baik, lha kalo kejadian udah bangkrut, dibenci calon mertua, difitnah cewek lain, terdampar di tengah jalan, ketangkep mucikari pula! Wedeww.. kasian banget deh hehehe..

Eniwey, aku juga menunggu-nunggu nih, ada gak ya sutradara yang 'sadar' akan kebutuhan penonton ini? Apakah sekolah sinematografi di Indonesia udah gak berkembang lagi? Kalo bener gitu, berarti beruntung banget aku gak jadi daftar IKJ! Hehehee.. udah bayar mahal-mahal, yang diajari setara dengan sinetron. Wah... mending otodidak aja deh!

Selain itu, aku juga baca soal warga Jerman yang daftar jadi caleg. Jujur aja, aku malu banget sebagai WNI asli. Masa WNA nasionalismenya ke Indonesia lebih gede daripada WNInya? Bahkan dia ga mau pake money politic. Wih wih... mau ta'taroh dimana ya mukaku ini? Memalukan banget.

Aku gak tau, apa aku nanti bener-bener terjun ke pemerintahan (?), sementara aku ga ada dasar atau bau-bau politik sama sekali. Ngomong serius dikit aja, kayaknya aku ga bisa. Buktinya, postingan ini aja belibet kan kata-katanya hehehe... Tapi yang pasti disini, aku mau berikan apa yang aku punya buat Indonesia. Mungkin laptop aku ga pake punya Indonesia, MP3 player ga pake punya Indonesia, provider bukan punya Indonesia, dompet, tas, baju, aku ga pake buatan Indonesia (tapi baju abis gini aku pake punya Indonesia lhoo.. namanya RESERVED hihihihi...), tapi suatu hari nanti aku bakal pake punya Indonesia.

Soalnya suatu hari nanti aku yang nguasai produk-produk Indonesia, hiohiihi...

Jadi, anak muda, anda siap dimana, jadi patnerku, atau jadi bawahanku? :D

Tuesday, December 16, 2008

Golput

Seperti biasa, abis pulang dari aktivitas sehari-hari aku gag lupa buat maem (di rumah tentunya!). Cuma hari ini aku udah bertekad, gag boleh baca Deteksi lagi! (`.')/
Bukannya gag mau baca Deteksi lagi.. tapi lebih menomorsatukan berita utama ketimbang Deteksi gitulah.. secara udah mahasiswi gitu loh! Gag afdol kalo diajak ngobrol cuma ngerti Deteksi doang hehehe...

Biasanya kalo baca JawaPos, artikel yang paling aku suka kalo Pak Dahlan Iskan, ato Mas Azrul Ananda yang nulis opini, or something else. Aku suka gaya bahasa mereka. Aku juga suka baca opini-opini yang ditulis orang-orang, termasuk Surat Pembaca juga!

Hari ini opini-opini itu banyak menyinggung soal golput.

Yah.. aku gag memungkiri sih. Aku ne juga termasuk dalam jajaran masyarakat yang golput (malu). Tapi aku golput juga ada alasannya. Alasan yang paling mendasar sih, memang gag ada figur pemimpin yang bikin aku sreg milih dia.

Makanya aku gag terima kalo golput haram hukumnya.

Lha sekarang mau gimana kalo emang gag ada figur pemimpin yang mampu melegakan hati kita?

Di baliho-baliho besar mereka, mereka masih bisa tersenyum. Sedangkan rakyat? Mesem aja belum tentu bisa.

Ya mungkin aja aku memang gag nasionalis. Mungkin aja aku apatis.

Tapi...

Aku gag peduli seberapa kuat pengaruh mereka.
Aku gag peduli seberapa hebat ide-ide mereka.
Aku gag peduli seberapa idealisme mereka soal rencana mereka untuk Indonesia.
Aku gag peduli bagaimana mereka mempromosikan kehebatan mereka (kalau) jadi pemimpin bangsa.

Yang aku pedulikan, seberapa besar hal yang sudah mereka lakukan untuk Indonesia, saat ini.

Iya, saat ini.

Wednesday, July 23, 2008

Coblos coblos

Aku masih pake piama waktu tiba-tiba suara papa menggelegar di rumah.

"Ye, ayo cepetan mandi, trus ndang nyoblos ndang mari gitu lho. Heran aku, arek-arek kok bangun'e siang gini!"

"Iya iya.. Baru juga jam 8.. Lagian aku ga tau mau milih sapa.."

"Wes terserah lho. Wong ya podo kabeh kok janjine. Sana!"

Aku nggerundel sembari merapikan lagi koran yang aku baca tiap pagi. Ambil handuk, trus ke kamar mandi. Widiwww... belakangan ini kok Surabaya dingin banget sih..

Yeah, papa emang wakil ketua RT, makanya harus kasih contoh yang baik ke warganya (cih..) Nyoblos harus nomer 1.

Ngomong-ngomong soal nyoblos, milih gubernur Jatim ga segampang milih ketua kelas, atau ketua OSIS di sekolah. Keliatannya sih simpel. Tinggal dateng ke TPS, ngambil kertasnya, nyoblos, pulang. Gratis, ga keluar tenaga apa-apa. Tapii...

Kalo salah milih ketua kelas sih gampang, dia tinggal bawa nama aja di kelas. Kalo ada apa-apa yang disalahin dia. Dan ga menimbulkan efek samping apapun. Fun iya.

Kalo salah milih ketua OSIS juga gitu, ga terlalu menimbulkan dampak yang besar. Paling-paling acara tahunan ya berjalan biasa aja.

Kalo salah milih gubernur??

Sayup-sayup berita di MetroTV terdengar,
"Bu, ibu milih siapa untuk gubernur kali ini?", tanya si reporter.
"Ah, saya ndak milih, Mas. Wong cuma ngumbar janji tok", kata si ibu.

Ah, kasihan pemimpin-pemimpin itu. Kehilangan kepercayaan dari masyarakatnya.

Tapi,
Ya salah mereka juga kalo malah menyalahgunakan kepercayaan warganya.
Warga ya sebel dong.

Mungkin aku bukan warga yang baik.
Ga ikut berpartisipasi.
Terkesan ga mau tahu.
Ga ngurus.

Tapi paling enggak,
Aku ga buang sampah sembarangan.
Aku ga nyuap ataupun ambil uang yang bukan punyaku.
Aku belajar bayar bemo 2500, walaupun kalo kepepet banget masih bayar 2000.
Aku udah belajar dengan baik di sekolah, dapetkan nilai-nilai bagus.
Aku membiasakan diri nyebrang di zebra cross.
Aku berhenti waktu lampu merah. Mengerem pelan-pelan waktu lampu kuning.
Kendaraanku ga menyebabkan polusi udara (soalnya aku naek sepeda ^_^v)
Aku ga omong kotor sama warga lain.
Aku kerja, ga males-malesan.

Bagaimana denganmu?
PS: Tuh kan ga enak jadi 18 tahun...

Sunday, June 1, 2008

Selamat ulang tahun, Surabaya-ku!

Halo arek-arek Suroboyo!
Piye rek kabar'e!!
Huehuehueheuheue...
Pokok'e aku mau posting pake boso Suroboyo. Masio boso Suroboyoku pating pecotot ga ngerti maksude opo hahahahha...

Wah.. umur'e Suroboyo saiki wes piro yoh.. 715 yoh?? Waduuhh.. wes tuwek yo, Yo! (Suroboyo maksude hehehe..). Piye nih perkembangane Suroboyo saiki?
Nek aku delok-delok se, Suroboyo bakal maju teros pantang mundur! Hehehehe... Soal sampah, wes onok RT-RW sing jor-jor'an buat bersih2an. Wah, kudune iki dapet reward sing gede, rek! Piye..

Truuss... Tambah akeh pengijoane.. contone neng cedek'e omahku wes ditanduri mboh taneman opo iku. Aku sodok ga sreg se, soale wernone ijo streng ngono. Nggarai silau nek siang2 hahahah.. mbo seh.. be'e iku sing sodok murah yo? Masio gitu nek dari adoh wes apik kok. Ngejreng soale.. hihihi..

Wes ndak eroh opo maneh.
Pokok'e maju teros Suroboyo!
Suroboyo kudu dimenangno!!

Matur nuwun gae pendoa-pendoa Menara Doa ing Garden Palace. Gae pendoa ing omah-omah, sing ga capek-capek ndoa'no Suroboyo iki. Aku mek iso doa gae Suroboyo. Soale aku jek durung iso ngasi opo-opo gae Suroboyo. Tapi deloken yoh, nti pirang taun maneh, ta'tunjukno nek aku iki arek Suroboyo sing manteb! Yoooouuu!!

Wis, sekali maneh:
MAJU TEROS SUROBOYO!!
Aku bangga dadi arek Suroboyo!!

Surabaya 715 tahun
31 Mei 1293 - 31 Mei 2008
Daisypath Anniversary tickers