Saya copy-paste-kan tweet-tweet luar biasa dari temen-temen yang mendukung Kelas Inspirasi Surabaya ini.
In that day, A vineyard beloved and lovely; sing a responsive song to it and about it! I, the Lord, am its Keeper; I water it every moment; lest anyone harm it, I guard and keep it night and day.
Wednesday, March 20, 2013
#KISFair2013
Tuesday, March 19, 2013
Reminder for myself
You're just a 23th's girl! You are still young and you have sooo.. much time to enlarge your capacity! So, why you're afraid to fail? You still have much time to fix it :)
Saturday, March 2, 2013
Day 08: A Moment You Felt The Most Satisfied With Your Life
Eniwey, challenge hari ini kayaknya mesti ganti judul nih. Harusnya Moments, karena banyaaakkk! Tapi karena cuma bisa 1, hmm.. saya pikir momen yang membuat saya paling puas dalam hidup saya sampai saat ini (23 tahun lebih sekian hari) adalah saat peluncuran Kelas Wine saya.
Dengan melalui berbagi hal, suka-duka, naik turun, bahagia kecewa, dan dengan berbagai hal yang saya eksplor lewat keseluruhan panca indera saya (melihat, mendengar, berbicara, merasakan, termasuk membau) akhirnya saya bisa masuk kelas ini. Bukan perjuangan yang mudah, tapi juga bukan perjalanan yang membosankan bin sulit menurut saya.
Oleh karena itu, hari ini juga saya mau mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
Dengan melalui berbagi hal, suka-duka, naik turun, bahagia kecewa, dan dengan berbagai hal yang saya eksplor lewat keseluruhan panca indera saya (melihat, mendengar, berbicara, merasakan, termasuk membau) akhirnya saya bisa masuk kelas ini. Bukan perjuangan yang mudah, tapi juga bukan perjalanan yang membosankan bin sulit menurut saya.
Oleh karena itu, hari ini juga saya mau mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
Thursday, February 28, 2013
Teaser: #KelasInspirasi Surabaya
| Mr. Yehuda Purnawan - Drum Teacher @ Sekolah Musik Indonesia |
| Agus Sukamto - Illustrator, who known as Agus Koecink |
| Tamara G. Ebtavanny - Akademi Farmasi Surabaya |
There will be a #KelasInspirasi exhibition held in Surabaya in this.......... MARCH 2013!!
Stay tune for the update, and keep support us!!
Bandung Trip: A Regret To Remember
As
you know, 24-27 Januari 2013 kemaren saya dan @aditantrii melakukan backpacker
pertama kami ke Bandung. Well, not literally backpacker sih, Cuma trip murah
aja. Kayaknya belum bisa deh perjalanan kami ini disebut backpacker. Masih
kurang canggih. Hahahha..
Total
biaya perjalanan saya (gak tau kalo @aditantrii), untuk 3 hari 3 malam di
Bandung, saya menghabiskan kira-kira 1juta sekian ratus ribu rupiah, itu sudah
termasuk tiket pesawat pulang pergi, akomodasi selama di Bandung, makan kenyang
3 hari, oleh-oleh buat orang rumah dan hadiah buat diri saya sendiri yang
terdiri dari 2 kemeja, 1 kaos, dan 1 blazer. Mantabb kaann!! :D
Sunday, February 10, 2013
#KelasInspirasi Surabaya
dare to challenge yourself on #kelasinspirasi?
Sebenernya postingan ini baru mau dipublish setelah tanggal 20. Tapi hati saya gak tahan setelah denger dan lihat sendiri, ada ratusan professional, ya, PROFESSIONAL alias pekerja-pekerja profesional di Surabaya, mau dateng jauh-jauh ke ujung kota, berkumpul untuk sama-sama menginspirasi anak-anak SD di Surabaya tanggal 20 nanti.
Saya terharu sekali kemarin lihat banyak professional di Surabaya, mau dateng Sabtu-Sabtu gitu, ada yang harusnya libur, ada yang masih harus meeting siangnya, ada yang jauh-jauh dari luar kota, dateng dan berkumpul bersama-sama, ketemu perwakilan SD di Surabaya -apalagi bukan SD favorit lho! SD kecil yang gak terlalu dikenal!- bersiap untuk menginspirasi anak-anak SD.
Masih teringat bagaimana Bu July, atau Juli (semoga gak salah penyebutan nama) selaku Ketua Yayasan ivy School, menyemangati para volunteer untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anak Surabaya nantinya.
Masih teringat bagaimana Pak M. Ikhsan, Kepala Dinas Pendidikan Surabaya, bercerita tentang dia dan bu walikota, tiap malam minggu, keliling Surabaya dan menemukan baaanyak sekali anak-anak yang masih berkeliaran tanpa tahu tujuan. Bercerita tentang proyek-proyek yang beliau kerjakan di Dispendik, bercerita bagaimana dia dan rekan-rekan Dispendik berusaha membantu guru-guru untuk mengajar lebih efektif, dan dengan sedih bercerita bagaimana keadaan keluarga yang kacau membuat seorang anak yang seharusnya bisa mengembangkan kreativitasnya dengan maksimal, jadi tidak tahu harus berpegang pada siapa, bahkan ketika sekolah pun tidak bisa diharapkan untuk menampung mereka. Pak Ikhsan berharap dengan langkah kecil para professional di Kelas Inspirasi, bisa membatu teman-teman Dispendik untuk membuat anak-anak betah di sekolah dan menemukan mimpinya di sekolah.
Masih teringat juga kata-kata Pak Hikmat Hardono, CEO Indonesia Mengajar, "Saya percaya di dunia ini MASIH ada orang-orang yang mau berbuat kebaikan."
"Kadang kita salah memberi pertanyaan. "Ada yang mau jadi guru?" Tidak ada yang memberikan diri. Tapi ketika pertanyaanya diganti: "Ada yang mau mengabdi?" Ribuan orang datang dan merelakan diri untuk mengabdi ke daerah."
Sebenernya postingan ini baru mau dipublish setelah tanggal 20. Tapi hati saya gak tahan setelah denger dan lihat sendiri, ada ratusan professional, ya, PROFESSIONAL alias pekerja-pekerja profesional di Surabaya, mau dateng jauh-jauh ke ujung kota, berkumpul untuk sama-sama menginspirasi anak-anak SD di Surabaya tanggal 20 nanti.
Saya terharu sekali kemarin lihat banyak professional di Surabaya, mau dateng Sabtu-Sabtu gitu, ada yang harusnya libur, ada yang masih harus meeting siangnya, ada yang jauh-jauh dari luar kota, dateng dan berkumpul bersama-sama, ketemu perwakilan SD di Surabaya -apalagi bukan SD favorit lho! SD kecil yang gak terlalu dikenal!- bersiap untuk menginspirasi anak-anak SD.
Masih teringat bagaimana Bu July, atau Juli (semoga gak salah penyebutan nama) selaku Ketua Yayasan ivy School, menyemangati para volunteer untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anak Surabaya nantinya.
Masih teringat bagaimana Pak M. Ikhsan, Kepala Dinas Pendidikan Surabaya, bercerita tentang dia dan bu walikota, tiap malam minggu, keliling Surabaya dan menemukan baaanyak sekali anak-anak yang masih berkeliaran tanpa tahu tujuan. Bercerita tentang proyek-proyek yang beliau kerjakan di Dispendik, bercerita bagaimana dia dan rekan-rekan Dispendik berusaha membantu guru-guru untuk mengajar lebih efektif, dan dengan sedih bercerita bagaimana keadaan keluarga yang kacau membuat seorang anak yang seharusnya bisa mengembangkan kreativitasnya dengan maksimal, jadi tidak tahu harus berpegang pada siapa, bahkan ketika sekolah pun tidak bisa diharapkan untuk menampung mereka. Pak Ikhsan berharap dengan langkah kecil para professional di Kelas Inspirasi, bisa membatu teman-teman Dispendik untuk membuat anak-anak betah di sekolah dan menemukan mimpinya di sekolah.
Masih teringat juga kata-kata Pak Hikmat Hardono, CEO Indonesia Mengajar, "Saya percaya di dunia ini MASIH ada orang-orang yang mau berbuat kebaikan."
"Kadang kita salah memberi pertanyaan. "Ada yang mau jadi guru?" Tidak ada yang memberikan diri. Tapi ketika pertanyaanya diganti: "Ada yang mau mengabdi?" Ribuan orang datang dan merelakan diri untuk mengabdi ke daerah."
Kenapa sih, harus ada Kelas Inspirasi ini dan kenapa pula kita harus mengobarkan keberanian anak-anak untuk terus bermimpi? Bukankah kita tahu hidup itu kejam dan gak sedikit juga dari kita yang juga mulai redup mimpinya?
Guys, orang tua kita dulu terbiasa hidup dengan kerja keras, karena tanpa kerja keras, mereka gak bisa makan! Jadi kalopun mereka dulu sekolah, pulang sekolah mereka tetep harus bantu orang tua mereka supaya hari itu mereka bisa makan. Berkat kerja keras dan keuletan mereka, waktu jadi orang tua sekarang mereka bisa menyediakan fasilitas untuk anak-anak mereka.
Beda dengan kita sekarang. Kita hidup di generasi yang cenderung fasilitas sudah tersedia. Dengan fasilitas yang sudah ada dimana-mana, sejatinya kita kurang kerja keras, karena apapun yang kita butuhkan biasanya sudah disupport orang tua kita. Orang tua kita pun merasakan bahwa kerja keras waktu mereka masih kecil itu gak enak, makanya mereka berusaha memfasilitasi apapun kebutuhan anaknya. Jadi karena fasilitas yang sudah tersedia, salah satu jalan supaya kita tetap berjuang dan bukannya jadi anak lembek adalah dengan bermimpi! Dengan visi hidup kita! Dengan tujuan hidup kita!
Jaman orang tua kita, mereka susah untuk bermimpi karena dihadapkan pada realita hidup yang keras. Mereka lebih baik buang mimpinya jauh-jauh untuk tetap survive dalam hidup. Tapi kita sekarang harus punya mimpi supaya kita hidup! Karena hidup adalah perjuangan.
Alasan kita tetap sekolah adalah cita-cita kita.
Alasan kita memilih jurusan kuliah adalah cita-cita kita.
Alasan kita memilih bidang pekerjaan tertentu adalah karena cita-cita kita.
Alasan kita bergairah dalam hidup adalah cita-cita kita.
Sebagai seorang volunteer fotografer [amatir] di Kelas Inspirasi, saya tidak berharap banyak. Saya juga tidak berharap kehadiran saya di sana bisa menginspirasi anak-anak SD itu. Pengalaman saya menemani seorang kakak senior mengajar di sebuah SD di dekat kampus, dan menemukan kenyataan bahwa anak-anak itu begitu kompak menyanyikan lagu Bonek dan misuh #glek, cukup membuat saya agak keder.
Namun saya percaya, saya, dan ratusan volunteer lainnya di Surabaya, kami tidak pernah tahu apa yang akan terjadi 10 atau 20 tahun mendatang.
Satu langkah kecil dari kami, satu hari cuti kami, satu hari kami berpanas-panas di SD-SD di Surabaya, bisa jadi itu membawa dampak begitu besar 20 tahun lagi. Who knows?
I can't wait for February 20th!
Guys, orang tua kita dulu terbiasa hidup dengan kerja keras, karena tanpa kerja keras, mereka gak bisa makan! Jadi kalopun mereka dulu sekolah, pulang sekolah mereka tetep harus bantu orang tua mereka supaya hari itu mereka bisa makan. Berkat kerja keras dan keuletan mereka, waktu jadi orang tua sekarang mereka bisa menyediakan fasilitas untuk anak-anak mereka.
Beda dengan kita sekarang. Kita hidup di generasi yang cenderung fasilitas sudah tersedia. Dengan fasilitas yang sudah ada dimana-mana, sejatinya kita kurang kerja keras, karena apapun yang kita butuhkan biasanya sudah disupport orang tua kita. Orang tua kita pun merasakan bahwa kerja keras waktu mereka masih kecil itu gak enak, makanya mereka berusaha memfasilitasi apapun kebutuhan anaknya. Jadi karena fasilitas yang sudah tersedia, salah satu jalan supaya kita tetap berjuang dan bukannya jadi anak lembek adalah dengan bermimpi! Dengan visi hidup kita! Dengan tujuan hidup kita!
Jaman orang tua kita, mereka susah untuk bermimpi karena dihadapkan pada realita hidup yang keras. Mereka lebih baik buang mimpinya jauh-jauh untuk tetap survive dalam hidup. Tapi kita sekarang harus punya mimpi supaya kita hidup! Karena hidup adalah perjuangan.
Alasan kita tetap sekolah adalah cita-cita kita.
Alasan kita memilih jurusan kuliah adalah cita-cita kita.
Alasan kita memilih bidang pekerjaan tertentu adalah karena cita-cita kita.
Alasan kita bergairah dalam hidup adalah cita-cita kita.
Sebagai seorang volunteer fotografer [amatir] di Kelas Inspirasi, saya tidak berharap banyak. Saya juga tidak berharap kehadiran saya di sana bisa menginspirasi anak-anak SD itu. Pengalaman saya menemani seorang kakak senior mengajar di sebuah SD di dekat kampus, dan menemukan kenyataan bahwa anak-anak itu begitu kompak menyanyikan lagu Bonek dan misuh #glek, cukup membuat saya agak keder.
Namun saya percaya, saya, dan ratusan volunteer lainnya di Surabaya, kami tidak pernah tahu apa yang akan terjadi 10 atau 20 tahun mendatang.
Satu langkah kecil dari kami, satu hari cuti kami, satu hari kami berpanas-panas di SD-SD di Surabaya, bisa jadi itu membawa dampak begitu besar 20 tahun lagi. Who knows?
I can't wait for February 20th!
Subscribe to:
Posts (Atom)


.jpg)
