Thursday, February 28, 2013

Bandung Trip: A Regret To Remember


As you know, 24-27 Januari 2013 kemaren saya dan @aditantrii melakukan backpacker pertama kami ke Bandung. Well, not literally backpacker sih, Cuma trip murah aja. Kayaknya belum bisa deh perjalanan kami ini disebut backpacker. Masih kurang canggih. Hahahha..

Total biaya perjalanan saya (gak tau kalo @aditantrii), untuk 3 hari 3 malam di Bandung, saya menghabiskan kira-kira 1juta sekian ratus ribu rupiah, itu sudah termasuk tiket pesawat pulang pergi, akomodasi selama di Bandung, makan kenyang 3 hari, oleh-oleh buat orang rumah dan hadiah buat diri saya sendiri yang terdiri dari 2 kemeja, 1 kaos, dan 1 blazer. Mantabb kaann!! :D
But, I have regret in there.
Saya itu suka travelling. Sudah biasa ngilang kemana-mana bareng temen-temen (eh, emangnya kemana aja? Paling juga muter-muter Surabaya..). Di setiap perjalanan, selalu ada hal-hal yang membuat untuk tidak terlupakan.
Indahnya kota.
Makanannya.
Tradisinya.
Keunikannya.
Something.
Some…one?
Tapi ada satu hal yang membuat suatu perjalanan makin tidak terlupakan.
It’s about connecting people.
Bule jaipongan

Bukan, bukan Nokia.

Satu hal yang selalu membuat saya merindukan liburan ke Lumajang adalah karena kami berbaur ke warga desa sekitar. Kami bantu bersih-bersih rumah, kami bantu menyiapkan makan, kami berbincang-bincang.
Lumajang is not a great place for holiday, no offense.
Oleh-oleh khas jarang, kotanya ya gitu-gitu aja, bahkan terakhir kali kami kesana, kami mau ke taman wisata air terjun aja, air terjunnya gak ada. Gara-gara musim kemarau K Apaaa coba. Untung cuma 5 ribu masuknya. Tapi perjuangannya naik bebukitan itu lhooo… Nyesek kan kalo gak ada yang mau dilihat? Tapi kenapa saya selalu kepingin diajak kesana lagi? SELALU.

Keliatan kan mana yang warga kota, mana yang bukan?
Bukan berarti Bandung jelek lho ya.
Kalo mau belanja hemat kualitas mantap mending kesini dah! *sambil berdoa semoga Air Asia promo terus ke Bandung wkwkwk*
I enjoyed my holiday so much. Setelah sebulanan diribetin ngatur jadwal, karena ada beberapa plan mendadak yang bermunculan.
Tapi saya lupa.
Lupa bahwa inti dari backpacker adalah berbaur dengan warga sekitar.
Lupa bahwa sejatinya backpacker itu liburan yang melebur ke kondisi tempat yang kita backpacker-in (apa sih bahasanya campur aduk gak jelas -_-*)
Lupa bahwa backpacker itu bukan sekedar liburan hemat, tapi liburan untuk memanjakan jiwa kita.

Makanya, kebanyakan pelaku backpacker itu orang-orang dari negara maju yang melakukan perjalanan ke negara berkembang atau negara miskin sekalian. Lha ngapain orang Eropa backpacker ke USA, atau Rusia, gak perlu backpacker itu mah.. Orang Eropa kalo backpacker ya ke Asia, ke India, dari subtropis ke tropis. Atau ke puncak gunung tertinggi sekalian. Mereka gak cari lagi sesuatu yang ada di negara mereka, mereka mencari yang beda.

Perjalanan saya kemarin ke Bandung, saya menyesal saya kurang berinteraksi dengan warga sekitar. Saya sibuk memotret, sibuk belanja, sibuk membuat diri saya sendiri nyaman. Saya lupa menciptakan momen tak terlupakan dengan berbincang dengan warga. Saya lupa memaksa diri saya untuk sok berlogat Sunda (yang pastinya gagal total karena kecampur medok).

Itulah alasan juga mengapa saya merindukan ke Saung Angklung Udjo. Di tempat inilah satu-satunya tempat dimana waktu SMA saya bisa berinteraksi langsung dengan orang Sunda. Dengar langsung logat Sunda. Bicara dengan orang Sunda. Sampai saya sempat keluar statement: pengen punya pacar orang Sunda xD

Yah, tidak perlu disesali terlalu lama.
Cukup catatan untuk diri sendiri, kalau ada kesempatan backpacker lagi, jangan lupa melebur dengan warga sekitar.

The point of holiday is to connect ourselves with others. 

4 comments:

  1. hahaha gak kebayang juga sih kalo sundamu medok.
    kheur nhaon khang? haha bungahh pisan abdhinya.
    but it would be lovely if you practice it :)

    ReplyDelete
  2. Hahahahahhahahahhah!!
    *keplak Alen*

    ReplyDelete
  3. Wah, seru! AKu sebelumnya ga pernah berpikir seperti itu :) hehehe~ bener yah, yg paling asik itu bisa ngobrol dengan orang di sekitar :)

    ReplyDelete
  4. Sebelumnya aku juga enggak kok, ce. Tapi seahri setelah pulang dari Bandung baru kepikiran. Emang sih seneng disana bisa ngapa-ngapain, tapi ya itu, kayak something missing. Setelah direnungkan, ternyata yaa... inilah alasannya :)

    ReplyDelete