Sunday, August 4, 2013

The Conversation

Disclaimer: Tulisan ini panjang dan aneh



Hai.

Halo. Ini siapa?

Ini kamu.

Aku?

Iya kamu.

Ini siapa sih? Yang bener ah!

Lah, ini kan kamu..

Maksud kamu apa sih!!

Kamu kan tanya, "ini siapa?". Ini kamu.

Hadeehh.. apaan sih?? Ngerjain ya?

Enggak kok.. Ciyus..

Heh, gak usah alay!

Enelan. Ca o'ong cih?

......

Halo? Kok diem?

Males ngomong ama alay!

Kamu nyebut diri kamu sendiri alay?

Iniii siapaaa seeehhh??

Ini kaaamuuu!!

........

.....................

Maksud kamu.. aku lagi ngomong sama diriku sendiri?

Kinda.

.............

Hei hei! Mau kemana??

Emangnya aku udah gila ngomong ama diri sendiri?

Kamu.. gak suka sama dirimu sendiri?

Ya suka lah!

Suka tapi kok gak suka ngomong sama diri sendiri?

Ntar disangka gila!

Sama siapa?

Ya sama orang lain.

Emang mereka peduli?

Ya kalo mereka ngomongin aku gila kan artinya mereka ngeliat aku, menganalisis aku, memperhatikan aku, ngomongin aku, ngebahas aku, mikirin aku. Bukannya itu peduli?

Apa iya itu artinya peduli?

Kayaknya sih.. emang enggak ya?

Ya nggak tau juga sih.

Yee..

Kalopun kamu beneran gila, apa yang bakal mereka lakukan?

Well.. kalo keluarga kayaknya sih bakal kuatir, ngajak ke dokter jiwa.. kalo temen sih, entah ya.. at least they will pray for me..

Hmmm.. yakin mereka bakal gitu?

Ya kan aku gak pernah gila, meneketehe!

Mau coba?

Gila loe!

Lah ini kan kamu.. -_-*

Oh iya ya.. masa' ngatain diri sendiri gila.. :P

-_-*

Be te we, kenapa kamu tiba-tiba muncul?

Aku selalu muncul, tapi jarang ngomong aja sama kamu.

Oh ya?

Lha gimana, kamu sibuk kesana kesini, mikir ini itu selain diri kamu sendiri.

Masa' sih.. rasanya aku cukup mikirin diriku sendiri kok.. Buktinya udah mulai perawatan wajah, rempong lah tiap malem bersih-bersih muka gitu.. ngantuk euyh.. Upgrade pengetahuan macam-macam juga..

Tapi.. pernahkah kamu bener-bener bertanya sama diri kamu sendiri: Apa yang sebenarnya yang kamu inginkan?

Yang aku inginkan?

Iya.

Aku pengen revival di anak-anak.

Gak usah sok rohani. You're talking with yourself now.

Tapi beneran kok itu..

You can show it to others, but for me? Haha.. It's hilarious.

Emang salah pengen itu?

Bukan soal salah bener, perhatiin deh pertanyaanku: apa yang SEBENARNYA yang kamu inginkan?

Hmm.. I'd never think about it before...

Take your time, I'm here always, ready to listening.

.....

............

...................................

.............................................

.............................................................

Lama amat sih?

Katanya take your time! Gimana sih?

Ya jangan lama-lama lah!

Sebenernya kalo dipikir-pikir, mauku banyak juga, dan bikin bingung juga. Is it okay? Apa ini yang Tuhan mau?

Apa itu?

Well, you know.. ada lowongan baru kan di grup alumni.. buat freshgraduate. Somehow pengen nyoba apply sih, secara udah males banget ngurus S2. Ngeliat prosesnya juga gak serumit Schlumberger atau perusahaan lain..

Eit, ati-ati, merk!

Eh, ups.. iya.. anu.. yah.. rahasia umum lah itu! Di Kaskus aja ada yang ngebahas loh!

Ciyus??

Nah kan alay lagi -_-*

Ehehehhehe...

Ya googling sana!

.........

Kok diem?

Iya lagi nge-googling.

Okeh -_-*

Okeh.. sampe mana kita tadi?

Lowongan di alumni..

Oh iya, silakan lanjut.

Ya.. menarik sih lowongannya, aku juga pengen kerja di tempat kayak gitu sejak lulus. Tapi..

Tapi?

Tapi di Jakarta. As usual..

Why not!! Try pursue it!

Banyak tanggungan di sini... *nyengir malu-malu*

Kalo gak ada tanggungan, mau nyoba?

Mungkin.

Kok mungkin?

Dipikir-pikir lagi, ya sebenernya enak sih kerja begituan, tapi kan gak tau suasana kerjanya kayak apa. Kalo ternyata kayak romusha gimana? Atau kayak TKI gitu.. Di tempat sekarang, walau rada geje dan gaji kecil, aku bisa belajar banyak hal, hal-hal yang aku suka dan aku minat untuk pelajari itu. Belum tentu di perusahaan besar aku bisa se-enjoy sekarang.

Yah, kalo maunya enjoy aja, kapan suksesnya? -_-*

Iya sih.. itu juga yang jadi kepikiran. Tapi.. aku masih bingung, definisi suksesku itu apa ya?

Banyak uang? Punya rumah sebelum umur 30? Pacaran umur 24 nikah umur 26? Punya anak pertama umur 27 punya anak kedua umur 29 trus stop? Happy parenting? Ngerintis bisnis sama suami?

Hei hei hei!! Kamu membocorkan rahasia terdalamku!

Upsss....

-_-*

Ya memang sih ngebayanginnya rasanya happy gitu ya.. ada bunga-bunga bermekaran tiap hari.. senyum dimana-mana, tapi.. apa itu yang SEBENERNYA kamu inginkan?

Heemmm.... I don't think so..
Seneng sih kayaknya.. tapi apa jaminannya kan ya kalo itu kejadian aku bakalan happy?

Heemm..

Anyway, kecil kemungkinan juga aku bakal pacaran umur 24 hahahha..

Kenapa? Kandidat kan banyak?

Iya sih.. kandidat banyak, oke-oke juga, kurangnya sih cuma satu..

Apa itu?

Kurang suka sama aku.. :">

........
Ngarep nih ceritanya?

*uhuk*

Back to topic, apa yang SEBENERNYA yang kamu inginkan?

Hhhh.. nggak tau.

Nggak tau??!

Nggak tauu... T_T

Ya selain pengen kerja di tempat itu, masih pengen nyoba S2 lagi sih.. Tapi S2 kan yang pengen jadi dosen, sedangkan aku gak pengen jadi dosen. Ya pengen sih, enak kerjanya cuma kalo ada kuliah aja, bisa nyambi-nyambi..

Pengen yang nyaman-nyaman gitu ya?

Ho oh..

Yah, nggak munafik juga sih, sapa sih yang gak pengen hidup nyaman? Ya gak?

Yo'i coyy..

Tapi nyaman kan gak sama dengan happy. Nyaman juga gak sama dengan sukses. Apa itu yang kamu inginkan? Punya kerjaan tetap, hidup tenang dengan keluarga, anak baik-baik, suami cinta, and then? Mati?

Ahhh.. entahlah. Kamu bikin pusing aja.

Ya kamu tuh yang ribet.

Aku cuma takut..

Takut apa?

Takut salah ambil keputusan, trus harus menanggung beban seumur hidup.. Dulu pernah dikotbahin kan, sebelum umur 30 itu fase belajar, setelah umur 30 itu fase aplikasi. Kalo sekarang salah ambil keputusan dan nantinya telat gimana? Sampe umur 40-50 masih gak tau apa yang diinginkan dalam hidup? Aku gak mau menjalani hidup untuk jadi orang lain.. Atau untuk jadi seseorang yang orang lain inginkan. Aku ya aku. Suatu saat nanti aku akan menyandang nama Mrs. XOXO, aku harus mencerminkan suamiku, harus bisa bawa harga diri suamiku kemana-mana, trus jadi ibu atas X anak. Nanti dipanggil mamanya X, mamanya Y, atau mamanya Z. Kalo anaknya kacau, yang disalahin mamanya, gak bisa ngedidik bener. So, aku harus merubah diriku sendiri supaya orang lain gak dapet malu karena aku. Ufff.. Bisakah aku menjalani hidup seperti itu?

.............

Sekarang juga gitu.. mau nanggung biaya rumah tangga juga belum bisa maksimal. Gimana ntar mau nikah? Boro-boro mikir nikah, yang ada ntar aku malah nyusahin ortu dan pasangan. Bener-bener gak dewasa ya? Mana ada yang mau sama cewek kayak begini coba? :D Kalo tanpa komitmen sih gampang. Tapi kayaknya aku gak mau deh punya hubungan kayak gitu. That's not my standard.

..............

Di kerjaan juga.. Aku merasa, aku banyak ketinggalan. Padahal udah hampir setaun disini. Aku masih aja harus belajar banyak hal. Orang bilang, awal-awal kerja kalo kita banyak tanya, masih dijawab. Tapi setelah sekian bulan, kita tanya belum tentu dijawab. Cari sendiri. Selesaikan sendiri. Kupikir-pikir, yang bener adalah tahu kapan waktu yang tepat untuk bertanya. Jadi keingetan cerita di bukunya Seth Godin deh.

Huh? Cerita apa itu?


Triple Exponential Smoothers by Paul Durban

A few years back, I was asked to teach a design course at a local college. I was told by the dean that the students needed a reality check. They were learning a lot of theory, but very little practical knowledge that would help them get work after graduation. So my task was to take a group of budding freelancers and give them some knowledge of the real world.

My first day, I walked to the front of the class, introduced myself and said, “Okay, let’s get started. I am your client and I need you to design me a brochure. Go!”

The students hunkered down in front of their laptops and furiously began to design the best brochure that their professor had ever seen.

I stood there – dumbfounded.
“Wow,” I thought to myself.
“This is worse than I thought.”

About 10 minutes passed by before a shy, blonde girl raised her hand in the back.

“Um…professor? So… like…. What’s the brochure about?”

The boy next to her actually had the audacity to give her the what-a-stupid-question look.

“That’s an excellent question!” I responded.
“I want a brochure about my triple exponential smoothers.” 

The class collectively replied, “What’s that?!”

“Oh, I’m sorry. I should explain. A triple exponential smoother attaches to custom made rabberflanges.” 

After a pause, the class made an “Oooohhhhh” sound as if they actually understood my gibberish.

After another 5 minutes of ‘creating’ another hand shot up.

“How big do you want the brochure?”

“Another excellent question,” I happily replied. Surely, the students must be on to my little game. The questions will start coming fast and furious now.

I was wrong.

For the next 3 hours, the students designed their little hearts out while a random question would pop up now and then. A few minutes before the period ended, I asked the students to bring their projects to my desk one by one. Then I would comment on each one.

“I can’t accept this. It looks expensive to produce. It’s not within my budget.”

“Budget? Well, what’s your budget then?” would be the reply.

“It’s a little late to be asking that question, don’t you think?” would be my answer.

Or “Where’s my product shot? Where’s my logo? Where’s my (fill in the blank)?”

“You have a logo? You didn’t say anything about a logo!” the student would cry.

And my answer? “You didn’t ask.”

The students all “failed” the first project. But I couldn’t blame them. They all belonged to a tribe that was conditioned to follow orders. They needed to be hand-held and coddled every step of the way. They were never taught to question the status quo – to simply ask, “Why?”

For the first time, they were asked to control their own destiny. I soon realized that these students needed more than a real world education. They needed someone to tell them it was okay to take charge. They needed to graduate from one tribe to the next. The tribe of independent leaders. The next week, without any further instruction from me, we ran the exercise again. They all got A’s.

Current Tribes Casebook - Seth Godin

Well.. that's the end of the story..

Waahh...

Is that story moved you?

Yes, of course. I am you, right?

Oh yeah..

You know, kamu kelihatan terlalu kuatir.

Well, I think so.

Kamu terlalu memusingkan tentang apa yang akan terjadi besok, bulan depan, atau beberapa tahun ke depan. Yeaah.. itu baik memang, kita harus bisa menciptakan masa depan kita sendiri. Tapi kalau terlalu memusingkan hal itu, kamu jadi lupa dengan apa yang terjadi hari ini.

Begitukah?

Yapp.. kamu tau kan, masa depanmu tercipta dari apa yang kamu lakukan hari ini? Kamu terlalu sibuk kuatir akan hari besok di hari ini, gak heran ketika kamu bangun pagi, kamu cuma kuatir kamu cuma menghabiskan waktu sia-sia seharian. Cobalah sesekali berpikir tentang apa yang mau kamu selesaikan hari ini. Tanggung jawab apa yang harus kamu lakukan hari ini. Apa yang membuatmu BAHAGIA hari ini. Seseorang yang bahagia lebih mudah membuat orang lain bahagia, daripada sibuk mencari cara untuk membuat orang lain bahagia.

Bukakah itu artinya egois?

Ck. Semua manusia egois kali. Semua berlomba-lomba untuk mencari kebahagiaan diri sendiri. Bukannya itu egois?

Tapi orang seperti Mother Teresa, itu kan gak egois. Dia hidup untuk orang lain.

Mother Teresa bahagia gak dengan ngelakuin itu semua?

I think so..

Dia egois. Dia hidup untuk orang lain demi ngebahagiain dirinya sendiri. Egois kan? Kalo dia gak egois, dia gak akan ngelakuin itu. Dia gak bakal cari kebahagiaannya.

Heemm... gak yakin ah itu bener.

Ya terserah. Bukan urusanku juga itu bener atau salah. Emang kalo itu bener atau itu salah, ada efeknya?

Nggak tau juga sih.

Ya udah lah ya. Kebanyakan mikir malah gak action-action.

Iya, ngomong ama kamu bikin pusing aja.

Same here -_-*

Dah tidur gih!

Eh, jangan lupa bersihin muka.

Iya iya.. -_-*

1 comment:

  1. Hmmm... Ya, semua orang memang egois. Jadi mikir untuk sedikit lebih spontan dan tidak kaku...

    ReplyDelete